Begini Cara Menyelesaikan Konflik Palestina-Israel Menurut Gus Dur

Kritik, kecaman dan nasihat merupakan bagian yang sangat penting dan tidak terpisahkan dari sosok almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai juru damai antara Israel dan Palestina. Sejarah mencatat bahwa almarhum Gus Dur senantiasa menyindir, mengkritik dan mengecam setiap tindakan yang mencerminkan ketidakadilan baik yang dilakukan oleh faksi-faksi perlawanan Palestina maupun olehkaum zionis Israel. Konsekuensinya adalah pembelaan Gus Dur yang tidak kenal lelah terhadap pihak-pihak yang mengalami ketidakadilan.

Ketika agresi militer dilancarkan oleh Israel terhadap Palestina, khususnya wilayah Jalur Gaza pada 2009, Gus Dur dengan tegas menyatakan bahwa agresi militer tersebut merupakan tindakan yang tidak didasari oleh rasa keadilan. Gus Dur juga berpendapat bahwa seharusnya Israel tidak menggunakan standar ganda dalam sikap-sikap politiknya di dunia internasional, sehingga Israel akan lebih bisa diterima oleh banyak pihak. “Beberapa waktu lalu saya katakan kepada ribuan warga Yahudi Amerika Serikat di Los Angeles, jika pemerintah Israel ingin diakui sebagai negara yang berdaulat, mestinya Israel juga harus mengakui Palestina sebagai negara yang merdeka,” ujar Gus Dur (05/01/2009).

Meskipun Israel mampu menduduki tanah Palestina namun Israel tidak akan aman dari serangan gerilyawan Palestina. “Di sana banyak sekali faksi-faksi yang akan mempertahankan kehormatan tanah Palestina, apapun taruhannya. Meskipun Hamas mungkin hanya bagian kecil dari kekuatan Palestina, namun rakyat Palestina takkan tinggal diam dijajah bangsa Yahudi,” tambah Gus Dur.

Dengan demikian pemerintah Israel telah melakukan tindakan agresi militer yang sangat tidak adil terhadap Pemerintah dan Rakyat Palestina. Hal ini terlihat jelas dari tidak seimbangnya kekuatan militer antara Israel dengan faksi Hamas ketika bertempur di Jalur Gaza, Palestina, serta banyaknya jumlah korban sipil yang tewas akibat agresi militer Israel. Pemerintah Israel juga menerapkan standar ganda dalam pelaksanaan hubungan diplomatiknya dengan dunia internasional sehingga tidak dapat diterima oleh semua pihak.

Selain bertindak tidak adil terhadap pemerintah dan rakyat Palestina serta menerapkan standar ganda dalam pergaulan internasional, Pemerintah Israel juga tidak pernah mengakui kedaulatan Palestina baik secara de jure maupun de facto. Hal ini disebabkan oleh masih adanya konflik dan sengketa batas wilayah serta perebutan klaim terhadap kota suci Yerusalem sebagai ibukota negara. Konflik fisik maupun psikis diantara kedua negara serta invasi dan serangan militer Israel ke jalur Gaza membuktikan tidak diakuinya kedaulatan Palestina baik secara de facto maupun de jure oleh Israel.

Pemerintah Israel telah menjajah bangsa Palestina sejak puluhan tahun yang lalu hingga menyebabkan perlawanan terus-menerus (intifadah) dari seluruh pejuang Palestina yang dengan seluruh jiwa dan raga mempertahankan kehormatan dan kedaulatan wiayah Palestina. Para pejuang tidak akan membiarkan sejengkal pun tanah Palestina dikuasai bangsa Yahudi, itulah sebab mengapa serangan artileri dan rudal terus ditembakkan ke Israel dari jalur Gaza, khususnya oleh Faksi Hamas – Palestina.

Almarhum Gus Dur pun pernah menyindir penjajahan Israel terhadap bangsa Palestina yang sangat berorentasi pada paham materialisme dan zionisme sertaberlidung dibalik persekutuan pragmatis antara Israel dengan negara-negara Barat.Seperti dikutip dalam artikel berjudul ‘Gus Dur dan Topi Yahudi’ (NU Online), almarhum Gus Dur pernah secara langsung menyindir dan melontarkan ide nyelenehnya kepada Presiden Israel, Shimon Peres, dalam bentuk guyonan.

“Pak Peres, negeri anda akan kaya raya jika mau mengimpor kutang dari perancis,” ujar Gus Dur. “Kenapa Pak Gus?” tanya Presiden Peres. “Imporlah kutang dari Prancis. Sesampai di Israel, kutang itu dipotong jadi dua,” jelas Gus Dur yang membuat Peres semakin penasaran.

“Nah, setelah dipotong jadi dua, baru dijual. Kutang yang aslinya hanya bisa dipakai satu orang, di Israel bisa dipakai dua orang, asal dipotong dulu. Dan itu artinya bisa mendatangkan untung lipat dua. Jangan lupa, tali-tali pengikatnya dibuang dulu,” jelas Gus Dur tambah panjang.

“Mana bisa kutang dipotong jadi dua dan mendatangkan untung berlipat???,” tanya Peres dengan rasa penasaran yang semakin menjadi-jadi. “Ya kan kalau sudah jadi dua, namanya bukan kutang lagi. Kalian bisa memakai kutang sebagai topi untuk pergi ke tembok ratapan,” terang Gus Dur enteng.

Facebook Comments

About @beritasantri

Check Also

Koh Steven, Mualaf Yang Rela Jual Mobil dan Rumah Hingga Rp12 M Demi Bantu Penanganan COVID-19

Seorang mualaf di daerah Yogyakarta, bernama Steven Indra Wibowo rela menjual rumah dan mobilnya dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *