
Masih ingat saat Bagito Grup didemo orang-orang yang mengidolakan Gus Dur? Akibat kejadian itu, Miing Bagito diundang ke Istana, dan sejak saat itu mengaku mulai mengenal mantan presiden keempat itu.
“Saya mengenal sosok Gus Dur ketika saya dipanggil ke Istana tahun 1999, Bagito dipanggil Gus Dur,” ungkap Miing saat ditemui di Gedung DPR/ MPR RI Senayan, Jakarta, Rabu (6/1).
Ketika itu pelawak Miing dengan gaya orang buta meletakkan gagang telepon secara salah dalam lawakannya yang live dari sebuah stasiun televisi swasta. Lawakan itu dinilai sebagai kritik personal terhadap pribadi Gus Dur yang memiliki kekurangan secara fisik.
“Di situ saya kenal Gus Dur, sebagai pemimpin pada saat itu yang kita ‘kritisi’ dia menjawab ‘Nggak ada masalah Bang Miing jangan berhenti mengkritik pemerintah kalau berhenti negara ini hancur, teruskan saja, mungkin caranya aja yang baik’. Saat itu Gus Dur tidak menunjukkan kalau dia orang berkuasa,” ungkap Miing yang kini anggota DPR Ri itu sambil menirukan kalimat Gus Dur.
“Saat itu juga saya bertanya sama Gus Dur ‘apakah saya masih boleh siaran di TV?’, dia bilang ‘jangan tanya sama saya tanya sama yang punya TV, boleh atau tidak kalau dilarang kasih tahu saya’,” tambah Miing sambil tertawa.
Sikap Gus Dur yang sederhana itu, menurut Miing belum tentu bisa diikuti oleh semua pemimpin. Padahal saat itu suasana di luar cukup panas atas kritikannya itu.
“Dengan mengatakan ‘gitu aja kok repot’ itu menunjukkan orang itu sudah melewati batas-batas kebiasaan orang yang saat ini didiskusikan,” pungkasMiing. (kapanlagi)
****
Setelah puluhan tahun berlalu, kejadian hampir serupa berulang kembali. Sasarannya bukan lagi Gus Dur, melainkan para kyai NU yang maqomnya sangat dihormati oleh kalangan Nahdliyin. Gus Mus, Mbah Maimoen Zubair beberapa waktu yang lalu juga dihina oleh para haters.
Apa yang dilakukan para kyai itu? Bagi orang di luar Nahdliyin pasti heran. Para kyai itu malah dengan terbuka memafkan para pelaku.
Hal ini tentu saja beda dengan teman-teman di sebelah ketika peristiwa yang sama terjadi pada mereka, mungkin akan mengkondisikan “umatnya” untuk turun ke jalan ataupun menempuh jalur hukum.
Namun seandainya para kyai NU itu menghendaki, ratusan ribu GP Anshor dan Banser seluruh Indonesia akan bilang kepada para kyai, sami’na wa atho’na/ saya dengar dan akan saya laksanakan.
Disinilah yang membedakannya. Akhlak para kyai itu dipelajari turun temurun dari guru ke murid terus berkesinambungan sampai sanadnya ketemu dengan Rosulullah.
Facebook Comments
Beritasantri.net Berita paling update seputar santri | islam | pesantren 