Ponpes Metal, Dipimpin Kiai Nyentrik Penakluk Harimau

 

PONDOK Pesantren (Ponpes) Metal Moeslim Al Hidayat di Desa Rejoso Lor, Pasuruan, Jawa Timur, sangat berbeda dengan ponpes umumnya. Ponpes ini khusus menampung santri bermasalah, mulai orang gila, korban narkoba, sampai perempuan hamil pranikah.

Tak ada tanda-tanda, plang, atau papan nama yang menunjukkan bahwa itu lokasi Ponpes Metal yang berada di tepi Jalan Raya Pasuruan-Banyuwangi. Tepatnya, sekitar delapan kilometer dari Pasuruan ke arah Probolinggo.

Hanya ada gambar atau patung beton bergambar metal atau salam tiga jari berukuran sedang di depan pintu gerbang pondok. Semua dicat merah menyala dengan tulisan ‘Metal Muslim’.

“Banyak orang kecele, mereka mengira ini kantor parpol (baca PDIP) karena patung salam tiga jari. Apalagi dicat merah,” kata Buchori (30), juru bicara Ponpes Metal kepada Sindonews.

Metal di sini bukan berarti musik cadas, tapi singkatan Membaca atau Menghafal Tulisan Alquran.

Setelah memasuki areal ponpes seluas 10 hektare, terlihat beberapa bangunan sepintas mirip bungalow karena bentuknya seragam mengitari areal. Bangunan itu berupa rumah berukuran 10 x 6 meter. Ada teras, kamar mandi, dan ruangan tengah cukup lebar untuk istirahat para santri.

Lokasi para santri pria dengan perempuan dipisah. Orang gila menempati sisi kiri ponpes. Santri perempuan berada di belakang, sedangkan santri laki-laki di sebelah kanan.

Halaman tengah pondok dibiarkan kosong. “Dulu di tengah areal ini rimbun. Penuh pepohonan. Oleh Pak Kiai (KH Abu Bakar Cholil, pendiri Ponpes Metal) ditebangi. Orangnya memang nyentrik dan aneh. Cara berpikirnya kebalikan dari orang umumnya. Kalau orang ingin rimbun, Pak Kiai ingin lapang,” ujar Buchori yang nyantri belasan tahun itu.

Rumah KH Abu Bakar Kholil berada di samping kanan, tak jauh dari pintu masuk. Beberapa santri yang merupakan anak yatim piatu keluar masuk rumah kiai.

“Ya, seperti rumah mereka sendiri. Pak Kiai dan Bu Nyai sudah dianggap orangtua sendiri para santri.”

Sikap nyentrik Pak Kiai tak hanya menampung orang gila, perempuan hamil pranikah, dan korban narkoba. Juga terlihat dari kegemarannya memelihara binatang buas, mulai harimau sumatera, kera, buaya, ular, dan aneka burung. Tapi, terbukti, belakangan binatang tadi ada manfaatnya bagi penyembuhan para santri.

Suatu ketika ada orang gila tidak mau bicara. Setelah dijilati kera, orang gila tadi berteriak histeris dan akhirnya mau ngomong. Itu memudahkan kesembuhan yang bersangkutan karena bisa diajak dialog.

Kalau ada orang gila tak bisa diatur, menolak mandi, atau tak mau bicara, cara mengatasi cukup mudah. Orang gila tadi ditunjukkan harimau atau buaya. Kalau tidak mau mandi akan ‘diberikan’ ke harimau.

Setelah itu, orang gila jadi takut dan jadi penurut. Karena manut dan mudah diatur, lama-lama jadi kebiasaan mereka yang pada akhirnya membantu proses penyembuhan mereka sendiri.

“Cuma ditakut-takuti mereka sudah menurut. Itu hanya trik saja,” ujar Buchori.

Tapi, sekarang hanya tersisa satu harimau, kera, dan burung. Tidak ada lagi buaya. “Biaya makannya mahal. Sehari harimau butuh lima kilogram daging sapi dioplos ayam,” terangnya.

Harimau di Ponpes Metal

Semasa Kiai Abu Bakar Kholil hidup, harimau sering dipindah-pindah tempat. Digiring santri dan dipimpin Pak Kiai langsung. Santri tidak takut karena ada Pak Kiai.

“Tidak tahu pakai ilmu apa atau doa khusus apa, kok harimaunya nurut saja sama Pak Kiai. Padahal, harimau itu pernah makan orang. Tapi, setelah dipelihara di ponpes aman-aman saja sampai sekarang,” terangnya.

Sejarah Ponpes Metal Muslim Al Hidayat bermula dari majelis taklim yang diasuh KH Muhammad Kholil dan Hj Ummi Kultsum yang tak lain orangtua kandung KH Abu Bakar Kholil.

Setelah KH Muhammad wafat, oleh ibunya Hj Ummi Kultsum, anak-anaknya yang  berjumlah 13 orang diminta meneruskan majelis taklim binaan abahnya.

Muhammad Said, salah satu putra almarhum KH Muhammad Kholil teringat adiknya, KH Abu Bakar Kholil, yang saat itu lagi mondok di Ponpes Al Hidayah Lasem, Rembang, asuhan KH Machsoem. Abu Bakar pun diminta pulang menggantikan abahnya mengelola majelis taklim.

Sepulang ke Pasuruan, KH Abu Bakar Kholil bukannya mengajar para santri, tapi malam suka suka mengumpulkan pemuda di Desa Rejoso Lor untuk bermain sepak bola dan bulu tangkis. “Pak Kiai mudanya memang suka olahraga,” tambah Buchori.

Itu dilakukan bertahun-tahun. Hingga akhirnya Pak Kiai akrab dengan warga desa terutama para pemudanya. Belakangan terbukti, mendirikan klub sepak bola, bola voli, dan bulu tangkis hanya cara Pak Kiai untuk merekrut santri di kalangan pemuda. Mereka pun diajak salat bersama dan akhirnya menjadi santri. Karena santrinya makin banyak, majelis taklim diubah menjadi ponpes.

Sekitar tahun 1997, KH Abu Bakar Kholil menerima pasien putri mengidap gangguan jiwa, anak seorang anggota Polres Probolinggo. Setelah ditangani tiga minggu, putri polisi itu sembuh. Sejak itu, KH Abu Bakar Kholil kian tersohor. Apalagi, banyak dipublikasikan media.

Ponpes kebanjiran pasien orang gila. Yang datang, tidak hanya santri yang mengindap kelainan jiwa, tapi juga korban narkoba sampai perempuan hamil pra nikah datang berbondong ke Ponpes Metal. Semua diterima dengan tangan terbuka.

Latar belakangnya pun beragam, ada pemusik, berandalan, pengangguran, pemabuk, dan pecandu narkoba. Gaya penampilan mereka juga beragam. Ada yang pakai jeans belel, merokok, pakai tindik, dan aksesori lain yang tak biasa digunakan santri di ponpes pada umumnya.

“Pak Kiai agak longgar. Yang penting mereka mau salat,” kata Buchori.

Karena Ponpes Metal menampung beragam santri bermasalah dari beragam jenis itu, banyak orang menjuluki Ponpes Metal sebagai ‘Pondoke Orang Rusak’.

Namun terbukti, banyaknya ‘orang rusak’ masuk Ponpes Metal akhirnya bisa disembuhkan berkat ketelatenan KH Abu Bakar Kholil yang dibantu  para santrinya. “Jumlah persisnya tidak tahu. Tapi, ratusan bahkan ribuan yang sudah sembuh,” tambah Buchori.

Setelah sembuh, sebagian memilih pulang. Sedikit yang memilih bertahan di ponpes. “Saya termasuk yang tinggal untuk membina adik-adik. Saya dulu juga santri sini,” kata Buchori tanpa malu-malu.

Karena jumlah santri terus bertambah, akhirnya Pak Kiai membeli tanah persawahan secara pelan-pelan sampai akhirnya seluas 10 hektare seperti sekarang. “Selain macan, sekarang ponpes juga memelihara sapi dan angsa untuk membantu anak-anak,” tutur Buchori.

Sepeninggal KH Abu Bakar Kholil sekitar 100 hari lalu, Pondok Metal dipimpin Lutfiyah, istri almarhum KH Abu Bakar Kholil, yang biasa disapa Bu Nyai.

Facebook Comments

About @beritasantri

Check Also

Berkah Wirid dari Kiai As’ad Situbondo, Pegawai Kemenag DIY Ini Naik Haji

Dialah Bramma Aji Putra, seorang pegawai Kanwil Kemenag DIY, yang sukses naik haji tahun 2018 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *