Ketika Tumbuhan dan Batu-batuan Ucapkan Salam Kepada Guru Sekumpul

Salah satu guru istimewa yang membentuk KH Muhammad Zaini Abdul Ghani (akrab disapa Abah Guru Sekumpul atau Guru Zaini) adalah KH M Syarwani Abdan (Guru Bangil) Pasuruan. Guru Bangil sendiri aslinya dari Martapura dan masih dzuriyah Syekh Arsyad Al-Banjari, masih saudara Guru Sekumpul. Saat datang di Bangil, Guru Sekumpul muda ditemani pamannya Guru Semman Mulia.

Saaat itu, tiba di rumah Guru Bangil waktu subuh sudah tiba, lalu mereka bertiga bersama-sama sholat Subuh berjama’ah. Pada pagi harinya Guru Bangil bilang, “Biar aja Zaini umpat aku, dan ikam Semman tolong bacakan kitab Risalah Amal Ma’rifah lawan santri selama aku lawan Zaini.”

Tidak kurang dari 20 hari, Guru Sekumpul dibimbing Suluk oleh Guru Bangil, diberikan berbagai amaliah, diijazahkan 40 Thoriqah Mu’tabarah. Guru Zaini pernah menceritakan saat-saat beliau suluk itu:

“Waktu aku di-Murobbi Guru Bangil selama lebih kurang dua puluh hari, aku selalu tidur sebantal dengan Guru Bangil, makan minum sepiring berdua, dan aku diajari Suluk sambil aku menurut Guru Bangil sampai waktu subuh, lalu kami sholat Subuh berjama’ah”.

Di kesempatan lain, Guru Zaini menceritakan: “Aku diijazahkan Guru Bangil empat puluh Thoriqat Mu’tabarah, dan setiap satu dari empat puluh Thoriqat itu semuanya aku amalkan menyampaikan aku kepada Allah.”

Sepulang dari Bangil, Guru Zaini tetap di-Murobbi (dididik) dan di-nadhrah (dilihat ruhaninya) oleh Guru Bangil, di antaranya dengan beliau menjalani Suluk, puasa 40 hari, dengan bersahur dan berbuka makan pisang dan air putih saja.

Selain itu Guru Zaini mendapat perintah untuk Siyahah yaitu berjalan di hutan untuk beribadah dan menjauhi makhluk. Tidak jarang hal ini dilakukan dengan menyamar sebagai seorang pemburu, sambil membawa senapan angin dan berbaju loreng seperti tentara.

Saat-saat itulah, banyak terjadi keanehan-keanehan. Guru Zaini bercerita: “Waktu aku diperintah Guru Bangil untuk Siyahah, berjalan ke hutan, setiap tumbuhan dan batu-batuan, semua mengucap salam kepadaku: Assalamu’alaikum ya Waliyyullah. Serta dibukakan kepadaku tentang kegunaan tumbuhan dan batuan itu. Aku juga dibukakan martabat dan kedudukan para Waliyyullah, serta dibukakan bagiku rahasia Alam Malakut sehingga aku pun mengenal semua martabat Malaikat langit.”

Setelah beberapa lama dalam bimbingan Guru Bangil, maka suatu ketika Guru Bangil berkata kepada Guru Zaini : “Kurasa apa nang kusampaiakan lawan ikam sudah genah (cukup) aja kalu sudah. Aku handak menyerahakan ikam lawan Sayyid Amin Kutby di Mekkah.”

Sebelum berangkat ke Mekkah, Guru Zaini disarankan oleh Guru Bangil untuk menemui KH Muhammad Falak di Bogor. Kiyai Muhammad Falak, nama asli beliau adalah Tubagus Muhammad. Nama belakang Falak karena kemahiran beliau di bidang ilmu Falak. Dilahirkan di Pandeglang, Jawa Barat 1842, wafat 1973. Beliau dikenal sebagai Mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah.

Guru Zaini akhirnya ke Bogor menemui Kiyai Falak. Saat itu KH Muhammad Falak bilang: “Ibadah kamu sekarang sudah dalam tahap Tsumma Nadhar.”

Barangkali maksudnya adalah memperbanyak Musyahadah dan Muroqobah. Beliau menyarankan untuk memperdalam lagi ilmunya dan meminta bimbingan Sayyid Muhammad Amin Al-Kutby Mekkah. Dari tokoh ulama Bogor ini, Guru Zaini mendapat berbagai Sanad dan ijazah Suluk dan Thoriqat.

*Dinukil dari Buku “Figur Kharismatik – Abah Guru Sekumpul” karya KH. M. Anshary El-Kariem.

Facebook Comments

About @beritasantri

Check Also

Akrabnya Gus Dur dengan Sopir Legendaris Kiai Wahab

Mbah Jum ikhlas Kang Padi menjadi sopir Kiai Wahab.Masalah nafkah Mbah Jum kerja jualan bensin. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *