Filosofi Bhineka Tunggal Ika Dicetuskan Sunan Kalijaga

sunan-kalijogo-1

“Bhinneka Tunggal Ika” yang bermakna “berbeda-beda tapi tetap satu” menjadi semboyan bangsa Indonesia yang memiliki banyak ragam suku, ras, agama dan sebagainya, akan tetapi dapat dipersatukan dalam sebuah negara.

Dari literatur sejarah yang populer diajarkan di dunia pendidikan kita, kalimat ini merupakan kutipan yang diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, yang hidup sekitar pada masa abad ke-14.

Namun, tidak demikian menurut sejarawan, Prof. Ahmad Manshur Surya Negara. Ia berpendapat filosofi “Bhinneka Tunggal Ika” ini, justru dicetuskan oleh Sunan Kalijaga sewaktu membangun masjid yang soko (tiang), dari potongan kertas dan kayu.

“Hal tersebut bermakna bahwa meskipun beraneka ragam, kecil, dan banyak tetapi bila menjadi satu akan menjadi kuat dan kokoh, layaknya tiang ini,” terang guru besar sejarah Universitas Padjajaran tersebut, pada acara “Ceramah Ilmiah” yang diselenggarakan PCNU Klaten, di Kantor NU Klaten, Jawa Tengah, Jumat (18/11) malam.

Pada acara yang bertema “Peran Ulama Dalam Menghantarkan Indonesia Menuju Kemerdekaan” itu, Ahmad Manshur juga menyinggung soal simbol negara Indonesia, burung Garuda, yang di dalamnya terdapat simbol dan lambang.

“Simbol Garuda ini diciptakan oleh Sultan Hamid II Kesultanan Pontianak atas permohonan Bung Karno, yang beliau contoh dari Rajawalinya Sayyidina Ali,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, diungkapkan penulis buku “Api Sejarah” itu, bahwa teks Proklamasi yang ditulis oleh Bung Karno dan Bung Hatta, diproklamirkan setelah meminta restu dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.(Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi/NU Online)

 

Facebook Comments

About @beritasantri

Check Also

Koh Steven, Mualaf Yang Rela Jual Mobil dan Rumah Hingga Rp12 M Demi Bantu Penanganan COVID-19

Seorang mualaf di daerah Yogyakarta, bernama Steven Indra Wibowo rela menjual rumah dan mobilnya dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *