BUYA SYAFI’I MA’ARIF, GUS DUR BARU?

341278_620

Tidak berlebihan jika menyandingkan Gus Dur dengan Buya Syafi’i Ma’arif. Gaya ceplas ceplos Sang Buya menanggapi situasi politik, agama dan kebangsaan lebih mirip Gus Dur daripada pemikiran Muhammadiyah sebagai organisasi yang membesarkan namanya.

Sosok Syafi’i Ma’arif sudah dikenal luas masyarakat sebagai seorang tokoh cendekia muslim modern. Bahkan, saat ini ia sudah dianggap sebagai salah satu dari segelintir guru bangsa yang masih eksis. Maka tak heran jika pemikiran-pemikirannya hingga hari ini masih menjadi panutan, bahkan oleh Presiden Jokowi. Berangkat dari hal tersebut, sudah sepatutnya Syafi’i Ma’arif berhati-hati dengan segala macam komentar dan celetukannya.

Dalam kasus pencalonan Budi Gunawan, misalnya. Buya, sapaan akrab Syafi’i Ma’arif, dengan komentar-komentarnya bahkan sempat membuat geram pimpinan PDIP. Dia saat itu nyeletuk jika “yang dipilih menjadi Kapolri adalah Jenderal yang dosanya paling sedikit.” Celetukan yang lebih mirip guyonan, namun memiliki arti yang begitu dalam. Gaya seperti ini dulu sering dilakukan Gus Dur saat menanggapi situasi yang rumit. Soal polisi pun, dulu Gus Dur pernah nyeletuk bahwa hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia, yakni patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng. Komentar ringan, tajam namun menusuk.

Masih soal komentar Buya tentang polisi. Saat menjabat Ketua Tim Sembilan, ia pernah keceplosan membocorkan informasi bahwa presiden tidak akan melantik Budi Gunawan. Tentu komentar tersebut membuat para petinggi PDIP sewot dan mengatakan Buya adalah tokoh tidak jelas, meski PDIP kemudian meminta maaf setelah peristiwa  ini.

Belakangan Buya juga mengeluarkan pernyataan menyinggung penunjukan Budi Gunawan sebagai Wakapolri. Komentar Buya, “Polisi baik itu kan banyak, tapi kenapa memaksakan mengusulkan polisi yang membikin heboh sebagai wakapolri ?” Sah-sah saja dia berkomentar mengingat dia adalah Ketua tim Sembilan Presiden soal kisruh KPK – Polri. Namun gaya kritik khas Buya ini menimbulkan geram beberapa pihak pembela Budi Gunawan.

Gaya ceplas ceplos buya ini pun sulit ditebak, misalnya saat berkomentar soal KPK, Buya mengatakan bahwa kriminalisasi yang menjerat dua pimpinan KPK nonaktif itu bukan merupakan kasus yang membahayakan negara, “Itu kasus anak bawang, kecil tidak ada yang besar”. Model menyederhanakan masalah seperti ini mirip dengan celetukan kondang Gus Dur: Gitu aja kok repot!.

Dulu, saat kisruh Ahmadiyah, Gus Dur dan Buya Syafi’i adalah dua tokoh yang memiliki pandangan berbeda dari kebanyakan tokoh Islam. Buya dalam pemikirannya melihat Ahmadiyah lebih baik dibiarkan berkembang sebab dalam Islam sendiri ada lebih dari 400 aliran. Buya pun menyatakan bahkan ada yang lebih mengerikan dari Ahmadiyah. Gus Dur pun senada. Mantan Presiden RI ke-4 ini menyatakan bahwa “selama saya masih hidup, saya akan pertahankan gerakan Ahmadiyah.”

Celetukan ini memang kontroversi dan nyeleneh, namun setidaknya itulah pemikiran yang diyakini dan diperjuangkan kedua tokoh Islam ini: menentang segala bentuk monopoli kebenaran. Pantas jika sebutan tokoh pluralis Indonesia layak mereka sandang.

Dalam menanggapi syiah pun demikian. Gus Dur dan Buya sangat getol membela syiah. Gus Dur kondang dengan pernyataannya bahwa syiah adalah NU dengan imamah (kepemimpinan), sementara NU adalah syiah tanpa imamah. Syafi’i Ma’arif pun senada dengan menyebut syiah adalah mazhab ke lima dalam Islam. Sebenarnya sah-sah saja, pernyataan itu sebagai suatu pemikiran yang bebas. Namun yang jadi polemik adalah posisi mereka sebagai tokoh Islam di Indonesia, yang mayoritas penduduknya adalah Islam sunni.

Secara figur, baik Gus Dur maupun Buya Syafi’i bukan figur ecek-ecek. Mereka berdua pernah menduduki kursi pimpinan di dua organisasi dengan basis lsam terbesar di Indonesia. Gus Dur pernah menjadi  Ketua Umum PBNU dan Presiden RI, sementara Buya Syafi’I pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Syafi’i Ma’arif sendiri dikenal kalangan akademisi sebagai guru besar ilmu sejarah. Sebelumnya, dia memperoleh gelar doktor pemikiran Islam di Universitas Chicago, Amerika Serikat, di bawah bimbingan pembaharu Islam dari Mesir Dr Fazlur Rahman. Dari gurunya itu, Buya menuturkan bahwa dia mendapat sudut pandang berbeda tentang bagaimana melihat Islam dalam konteks kenegaraan.

Buya pun pernah dipercaya menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah dua periode, tahun 1998-2000 menggantikan Amien Rais yang saat itu tepilih menjadi Ketua MPR, dan pada periode tahun 2000 sampai 2005. Dalam tujuh tahun kepemimpinannya, Muhammadiyah pun mengalami reorientasi gerakan dan pemikiran.

Sebelum menjadi Ketua  Umum PP muhammadiyah, Syafii Ma’arif menggeluti karir di bidang pendidikan, menjadi guru bahasa Inggris dan Indonesia, kemudian pernah menjadi dosen di bidang ilmu sejarah dan kebudayaan Islam, filsafat sejarah dan ideologi politik di beberapa universitas dalam dan luar negeri.

Akhir-akhir ini Buya lebih banyak dikenal masyarakat sebagai tokoh pluralisme. Keberpihakan pada kaum minoritas dan perlawanannya terhadap segala bentuk monopoli kebenaran membuat dia tidak sungkan menegur siapapun. Buya berani menegur menteri agama  saat membubarkan Ahmadiyah,  dan bahkan sempat menegur Amien Rais soal perseteruannya dengan Gus Dur.

Terlepas dari perbedaan NU dan Muhammadiyah, Nampaknya Sang Buya memang mengingatkan kita kembali tentang pemikiran dan gaya Gus Dur dengan segala macam sisi baik dan buruknya.

Source: indonesianreview.com

Facebook Comments

About @beritasantri

Check Also

Agung Hercules Meninggal Dunia di Usia 51 Tahun

Kabar duka kembali datang dari industri hiburan Tanah Air.Agung Hercules dikabarkan meninggal dunia pada Kamis (1/8/2019) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *